Sejarah Keramik Yang Ada Di Indonesia - Kakuda History

Sejarah Keramik Yang Ada Di Indonesia

Sejarah Keramik Yang Ada Di Indonesia - Kakuda History

Kakuda History - Paham sejumlah hasil keramik masa dulu dirasa butuh serta penting, terpenting untuk generasi muda agar dapat mendalami serta mengembangkannya dan bisa menjunjung hasil budaya sendiri. Histori keramik masa dulu sedikit sekali dikupas serta diperiksa, lantaran animo serta animo bakal hal semacam itu begitu minim atau langka. Di samping itu literatur keramik kuno Indonesia yg dicatat juga hanya terbatas. Buat tersebut, penulis menganggap kalau dibutuhkan satu tinjauan keramik kuno yg berada pada Indonesia dengan sistem eksploratif, ialah menggali dengan cara dalam terkait keramik masa dulu dengan mendaras data-data yg ada serta dianalisis dengan cara kualitatif. 

Kenyataannya kepintaran bikin benda lempung (jawa) atau keramik di Indonesia sudahlah cukup tua umurnya, ialah sejak mulai era Pra-sejarah. Kapabilitas bikin kerajinan ini terjadi terus sampai masuk era kerajaan Hindu serta Budha. Setelah itu hingga era kerajaan Islam serta era Penjajahan. Dalam tulisan ini disingkap kembali sejumlah hasil penemuan keramik Pra-sejarah, keramik saat kerajaan Hindu, Budha, Islam serta saat penjajahan Belanda serta Jepang dan hasil penemuan keramik asing yg diketemukan di Indonesia. Serta histori keramik di saat kemerdekaan. 

Pra-Sejarah Indonesia 


Kepintaran bikin keramik di Indonesia sesungguhnya udah tua umurnya, sama seperti perihalnya histori keramik diberapa belahan Dunia, seperti China, Jepang, Mesir, Yunani, Korea, Thailand, Peru, Philipina, Vietnam dan sebagainya. Dimana keahlian bikin keramik itu tampak serta tumbuh dengan cara alami, ada yg tumbuh dalam kurun waktu yg berbarengan tanpa ada efek interaksi kebudayaan satu dengan yang lain. Kepintaran bikin keramik bisa disebut setua manusia mengetahui api serta bisa menggunakannya. 

Penemuan tehnik bikin keramik atau pengetahuan perihal pembawaan lempung (jawa) yg mengeras seusai dibakar, diraih dengan cara tak berniat oleh orang primitif pada era Pra-sejarah. Ralph Mayer dalam bukunya A Dictionary of Art Termin and Techniques, menjelaskan kalau biasanya seni primitif dibikin dari kayu, batu serta lempung (jawa), yg dicetak buat sejumlah maksud relegi atau maksud yg praktis (Mayer, 1969) . Awal awalannya keramik dibikin condong jadi “wadah”. Buah pikiran pengerjaan wadah itu berasal dari penggunaan buah-buahan berkulit tebal seperti labu, kelapa dan seterusnya, yg didalamnya dikeluarkan. Pun dari ruas-ruas pohon bambu, daun-daunan mempunyai ukuran besar seperti daun pisang daun talas serta yang lain. 

Cekungan sisa telapak kaki serta batu pada tanah basah yg tergenang air hujan pun berikan buah pikiran, dimana air yg tergenangi itu bisa tahan lama bahkan juga dapat beberapa hari lamanya. Berdasar pada realita itu, satu disaat orang memanfaatkan keranjang bambu yg di lapis lempung (jawa) jadi tempat atau wadah cairan (liquid) serta wadah sesuai ini semestinya tak tahan lama. Dengan cara tak berniat keranjang itu dibuang keperapian bermaksud buat dihancurkan. Akan tetapi yg berlangsung keranjangnya hilang, tengah tanah pelapis masih tinggal serta diketemukan mengeras dengan tinggalkan sisa anyaman keranjang. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, orang mulai dengan berniat membuat lempung (jawa) dengan cara utuh jadi wadah serta buat kebutuhan religi yang lain. 

Dengan di ketemukan tanah yg mengeras ini, dengan cara tak berniat mereka udah menemukannya keramik dengan  bagian dekorasinya juga sekaligus. Seterusnya hiasan dipraktekkan dengan cara berniat, ialah memanfaatkan kulit kerang, kulit kayu, permukaan batu, tali, anyaman, serat tumbuh-tumbuhan, kain atau beberapa benda keras lain yg mempunyai tekstur / bermotif, melalui langkah mengecapkannya pada permukaan benda dalam situasi masih basah (lembab) sebelum dibakar. G. Nelson, dalam bukunya yg berjudul Ceramics menulis kalau satu realita yg terdapat pada beberapa benda tembikar atau keramik saat Neolitik, struktur yg banyak diketemukan yaitu sisa anyaman (Nelson, 1960) . Karena itu , jelas kalau keramik lahir pada awalannya jadi benda praktis serta juga sekaligus jadi benda estetis. 

Di Indonesia, keramik model gerabah diketahui sejak mulai era Pra-sejarah atau era Neolitikum, ialah pada tahun 3. 000 sebelum Masehi, dimana manusia kala itu udah mulai hidup bertempat serta bercocok tanam dan membuat kelompok-kelompok penduduk. Jadi penduduk yg bertempat, hidupnya butuh perabotan atau perabotan buat kepentingan keseharian, antara lain yaitu tempat menyimpan cairan (minuman) serta makanan yg dibikin dari gerabah (lempung (jawa)) . 

Banyak pemuka penduduk / pemimpin, setelah itu begitu pengaruhi kehidupan setelah itu, dimana orang yg dihormati serta diyakini itu dikira bisa buat perlindungan masyarakatnya, bahkan juga hingga meninggalpun tatap bisa pengaruhi manusia yg masih hidup. Nampaklah satu bentuk keyakinan penghormatan terhadap nenek-moyang, jadi penghormatan jadi dibuatlah perlambangan-perlambangan serta pemujaan-pemujaan buat menentramkan arwah nenek moyang mereka. Penyertaan benda simpan seperti patung kecil (figurin) , manik-manik dan tempat minuman serta makanan sebagai bentuk penghormatan leluhur jadi bekal dalam perjalanan ke alam baka. Peruk kecil berisi perhiasan serta periuk besar berisi tulang-belulang yaitu hasil kebiasaan keyakinan penduduk di era Pra-sejarah. 

Penemuan Keramik 

Di antara Langsa di Aceh serta Medan, di pantai timur laut Sumatera, ialah di Bukit Kulit Kerang, udah di ketemukan berwujud pecahan-pecahan periuk belanga. Pecahan gerabah itu begitu kecil, sampai sukar didapati bentuk atau bentuk awalnya. Yg didapati ada yg berhias serta ada yg polos. Hiasan yg kelihatan pada penemuan itu yaitu berwujud guratan atau sisa teraan benda keras, di samping itu ada motif bujur sangkar atau relief serta lain-lainnya. Kebudayaan kulit kerang di era Mesolitikum diketahui jadi kebudayaan “ Kjokkenmoddinger”. Rupanya bentuk kebudayaan kulit kerang ini tahan lama, dan di tempat lain pada kala yg sama udah mulai saat Neolitikum. 

Lain perihalnya dengan Van Es, Dia menemukannya pecahan-pecahan gerabah di jejeran bukit pasir tua pada pesisir selatan Yogyakarta serta Pacitan, menurut dia datang dari saat Neolitik. Mengenai pecahan-pecahan gerabah itu, banyak berwujud hiasan anyaman serta hiasan tali atau meander. Pun di pantai selatan pulau Jawa pun diketemukan pecahan-pecahan gerabah dengan hiasan kain (tekstil) . Hasil dari penemuan itu, duganya pada waktu Neolitikum di Indonesia udah ada satu kapabilitas buat mengatakan perasaan estetis yg dipraktekkan pada benda gunakan kebutuhan keseharian. Benda gerabah dihias sebatas biar benda itu lebih menarik saja serta akrab dengan si pengguna, tak ada pretensi lain. 

Gerabah yg diselidiki oleh L. Onvlee, diketemukan di kuburan di Melolo (Sumba) , miliki pembawaan lainnya . Dalam buyung (periuk-belanga) yg diketemukan ada banyak tulang-belulang serta tengkorak manusia. Tidak hanya itu ada benda simpan sejenis guci atau kendi mempunyai ukuran kecil, dimana leher serta kepala kendi bersifat kepala manusia, kadangkala dihiasi gambar wajah-wajah. Pada tubuh kendi dihiasi dengan garis-garis yg silang-menyilang atau sisi tiga, yg digores disaat lempung (jawa) masih basah sebelum dibakar. Guci sejenis kendi itu ada masanya berisi kulit kerang atau semcam perlambangan buat minuman serta makanan jadi bekal arwah nenek moyang. 
Kebiasaan penguburan jenazah dengan tempayan, diketemukan menyebar di berapa tempat di Indonesia, seperti di Anyer (Jawa Barat) , Sa’bang (Sulawesi Selatan) , Roti (Nusa Tenggara Timur) serta Gilimanuk, Bali ( Kempers, 1960 & Utomo, 1995) . 

Keramik buat kepentingan rumah tangga terpenting tempat minuman serta makanan saat Pra-sejarah, dibikin begitu simple serta biasanya dengan tehnik tatap batu atau kayu, tiada hiasan atau polos. Kendi, periuk, piring yg seluruhnya dari gerabah ada yg polos serta ada yg dihias. Pelbagai fragmen gerabah diketemukan di Gilimanuk, Bali, dengan pelbagai hiasan seperti tali, kulit kerang , hiasan jaring-jaring serta yang lain. Berbarengan dengan saat Megalitikum serta Perunggu, gerabah diperlukan jadi media pemujaan arwah nenek moyang, tidak cuman jadi perabotan rumah tangga. 

Benda simpan berwujud tempayan gerabah, manik-manik perunggu, sarkofagus batu, udah berubah menjadi kepentingan relegi serta perlambangan pemujaan arwah yg berkembang. Beberapa benda gerabah telah banyak yg dikasih hiasan, seperti diketemukan di Gilimanuk, di pantai Cekik oleh R. P. Soejono, yg berhias tali serta jaring dengan tehnik cap. Pada waktu itu, kemahiran tehnik bikin banyak barang perunggu berkembang. Pun kala itu seni hias hiasi capai puncaknya ialah dengan skema geometrik atau tumpal. Saat kemahiran tehnik ini setelah itu diketahui jadi saat “Perundagian”. 

Benda purbakala yg diketemukan di wilayah Nanga Belang di Kabupaten Kapuas Hulu serta di Kabupaten Sintang (Kalimantan) , seluruhnya diprediksikan dari saat Neolitikum. Tidak cuman ada kapak batu, pun ada pecahan periuk – belanga. Peninggalan gerabah Pra-sejarah pun diketemukan di wilayah Serpong di Tanggerang, Banyuwangi, Kalapadua di Bogor, Gelumpang di Sulawesi serta di Minahasa yang di Sulawesi, mirip dengan penemuan di wilayah lain, memanfaatkan tehnik simple dengan hiasan yang serupa. 

Pecahan gerabah dengan hiasan anyaman pun ada di wilayah Gelumpang, Sulawesi. Faktor – faktor tekhnis era Pra – histori tidak memberikan satu kemajuan yg bermakna. Yg penting dipahami ialah pemanfaatan alat pelarik udah mulai diketahui disaat bakal masuk saat Histori. Awal mulanya diketahui tehnik tatap batu / kayu dan pengerjaan langsung dengan tangan yg dikatakan tehnik “pinching” atau tekan jari dan tehnik “coilling” atau pilin atau tehnik “tali”. Faktor yang lain yaitu kapabilitas buat hiasi dengan tehnik cap serta record yg tumbuh dengan cara alamiah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Sepeda Dan Hadirnya Ke Indonesia - Kakuda History

Sejarah Perang Dunia I Secara Singkat - Kakuda History

Sejarah Kipas Angin Secara Lengkap - Kakuda History